Bun, Boleh Saja Berhubungan Suami-Istri Pasca Lahiran, Asal…

Salah satu pertanyaan yang mungkin terpendam dalam hati bunda, kapankah waktu yang tepat untuk kembali berhubungan suami-istri. (Sebunda.com/Desainer:Diyanpe)

Menjadi ibu baru tentu merupakan pengalaman penuh roller coaster. Ada penuh kegembiraan, rasa terharu serta kebingungan pastinya. Bahkan tak banyak yang mengalami stress pasca-melahirkan. Tak mengapa Bunda, semua rasa itu wajar dialami ibu baru.

Salah satu pertanyaan yang mungkin terpendam dalam hati bunda, kapankah waktu yang tepat untuk kembali berhubungan suami-istri. Sebagai kebutuhan dasar dalam berumah tangga, tak perlu tabu untuk menanyakannya.

Sebagai agama kasih sayang, Islam telah mengatur hal ini dengan sangat sempurna. Bunda tentunya pernah mendengar tentang masa nifas. Masa Nifas ditandai sebagai keluarnya darah dari rahim karena proses sebelum melahirkan hingga sesudah melahirkan yang disertai rasa sakit.

Ada beberapa perbedaan pendapat ulama terkait batas masa nifas untuk Bunda-bunda. Syaikh Taqiyuddin menyebut nggak ada batas minimal dan maksimal nifas bergantung pada berhentinya darah yang keluar setelah melahirkan.

Namun, sebagian besar ulama menyebutkan batas nifas sendiri selama 40 hari. Tapi jika lebih dari 40 hari dan darah yang keluar berangsur-angsur sedikit dan ada tanda akan berhenti maka tidak menjadi masalah. Tapi, jika setelah 40 hari darah terus mengalir deras, maka Bunda tetap diwajibkan untuk mandi wajib pada batas 40 hari tersebut.

Hal ini sesuai dengan hadist riwayat Tirmidzi:

“Ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi SAW, tabi’in dan orang-orang setelah mereka bersepakat, bahwa wanita nifas itu meninggalkan shalat selama empat puluh hari, kecuali jika dia sudah suci bersih sebelum genap empat puluh hari, maka pada saat itu dia harus mandi dan shalat.”

Masa nifas sangat berguna untuk Bunda segera pulih setelah melahirkan dan bisa dijadikan waktu untuk beradaptasi hingga tubuh normal kembali.

Selama masa nifas, sebaiknya Bunda juga tetap beristirahat sejenak dan meminta bantuan kepada suami atau keluarga untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga. Selain itu, sebaiknya Bunda juga cukup istirahat agar tetap sehat dan ASI bisa lancar.

Kapan Waktu yang Tepat Berhubungan Intim?

Lalu, bisakah Bunda dan Ayah berhubungan intim setelah masa nifas? Jawabannya tentu bisa. Namun, pastikan jika masa nifas sudah selesai.

Sebab, Al Quran secara jelas melarang kita untuk berhubungan intim saat haid dan nifas, seperti yang tercantum dalam surah Al Baqarah ayat 222:

ويحرم بالاتفاق إتيان الحائض، ومستحله كافر، لقوله تعالى: وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ [البقرة:222/2] والنفساء كالحائض.

“Hubungan badan dengan istri yang sedang haid haram berdasarkan kesepakatan ulama. Seorang Muslim yang menganggapnya halal bisa berubah menjadi kufur. Keharaman ini didasarkan pada firman Allah, ‘Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah, ‘Itu adalah kotoran. Maka itu, jauhilah perempuan saat haidh. Jangan kalian dekati mereka hingga mereka suci. Kalau mereka telah suci, maka datangilah mereka dari jalan yang Allah perintahkan kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertobat dan orang yang bersuci,’’ (Surat Al-Baqarah ayat 222).

Selain itu, dari segi kesehatan, berhubungan intim sebelum nifas selesai juga bisa menyebabkan risiko perdarahan hingga infeksi rahim yang akan membahayakan Bunda.

Sedangkan untuk Bunda yang melahirkan secara cesar, pemulihan untuk berhubungan intim lagi tentu akan lebih lama karena luka di dalam rahim yang belum kering.

Untuk itu, sebaiknya sabar untuk Ayah dan Bunda, ya. Tunggu dulu sampai masa nifas benar-benar selesai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *