Meneladani Ibunda Imam Syafi’i, Single Parent Penuh Kemuliaan

Allah karuniakan kesabaran dan kebaikan Ibunda yang single parent sehingga bisa mendidik Imam Syafii menjadi seorang imam besar. Masya Allah. (Sebunda.com/Desainer:Diyanpe)

Tahukah Bunda kalau Allah memberikan banyak kemuliaan untuk Bunda yang berstatus single parent? Hal ini dibuktikan dengan kemuliaan yang Allah berikan pada Ibunda Imam Syafi’i. Meskipun single parent, Allah karuniakan kesabaran dan kebaikan Ibunda yang single parent sehingga bisa mendidik Imam Syafii menjadi seorang imam besar. Masya Allah.

Dikisahkan, sejak bayi, Imam Syafi’i dididik dan dibesarkan sendirian oleh ibunya, Fatimah binti Ubaidillah Adziyah karena sang suami, Idris bin Abbas bin Usamah meninggal dunia saat Syafi’i berusia 2 tahun. Saat itu, ayah Syafi’i pun tidak meninggalkan harta sama sekali untuk ibunya, tapi Allah mencukupkannya. 

Setelah kepergian ayah Syafi’i, Fatimah berinisiatif hijrah dari Gaza, Palestina ke Mekkah dengan maksud mempertemukan Syafi’i dengan keluarga besarnya dari suku Quraisy.

Meskipun sendiri, Fatimah menginginkan agar Syafi’i bisa memperdalam ilmu agama Islam. Ia pun mengirim Syafi’i ke suku bernama Hudzail untuk belajar bahasa arab murni. Suku Hudzail memang terkenal dengan bahasa arabnya yang fasih saat itu. 

Dengan memberikan pendidikan yang bagus, kini Imam Syafi’i bukan hanya menjadi imam yang tinggi ilmunya tetapi juga terkenal lewat bait syair puisinya yang indah. 

Menjadi single parent dan hidup serba kekurangan, tidak menjadikan Ibunda Syafi’i menyerah. Beliau selalu mendidik Syafi’i agar menjadi seorang yang alim dalam ilmu pengetahuan. Semuanya sudah ia lakukan saat Syafi’i masih ada di dalam kandungan, termasuk menjamin kehalalan apa yang ia konsumsi.

Fatimah percaya jika kebaikan yang diberikan untuk anak sebaiknya sudah mulai dilakukan sejak anak dalam kandungan. Jadi, saat menginginkan anak tumbuh menjadi orang yang shaleh, sebaiknya orangtua juga memberikan teladan tentang keshalihan itu sendiri. 

Bahkan, Fatimah tidak ingin ada makanan yang tidak jelas masuk ke dalam tubuh Syafi’i. Hal ini terjadi saat Syafi’i kecil menangis karena Fatimah pergi ke pasar. Tetangga Fatimah yang melihat Syafi’i menangis pun langsung menyusuinya. Melihat hal itu, Fatimah langsung memasukkan jari telunjuknya dan mengguncangkan perut Syafi’i, karena khawatir terdapat unsur haram yang masuk ke dalam tubuh Syafi’i melalui susu tetangganya tersebut. Begitu protektifnya Fatimah menjaga Syafi’i dari hal-hal yang haram.

Bunda bisa mencontoh hal ini dengan memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuh anak agar kelak ia menjadi anak yang shalih dan shalihah. 

Sekolah terbaik juga menjadi keutamaan Fatimah. Meskipun ekonominya pas-pasan, ia tetap memasukkan Syafi’i ke sekolah terbaik bersama ulama-ulama terbaik. Bahkan, Fatimah rela melepas anak semata wayangnya untuk menuntut ilmu sejauh mungkin. Ia mengatakan kepada Syafi’i, “Nanti kita bertemunya di akhirat saja,” saat Syafi’i hendak menuntut ilmu di tempat yang jauh. Masya Allah.

Karena hal itu, Syafi’i pun terus belajar dari satu tempat ke tempat yang lain dan tidak berani pulang sebelum sang ibu menyuruhnya pulang. 

Hingga suatu ketika, ada perkumpulan mejelis ilmu di Masjidil Haram dengan ulama besar berasal dari Iraq. Dalam sebuah kesempatan, ia memuji kecerdasan gurunya yang berasal dari Mekah dan begitu alim dan membuat permasalahan agama di Iraq terpecahkan dengan baik. 

Saat itu Ibunda Syafi’i juga ada di dalam majelis ilmu tersebut dan mengetahui bahwa yang dimaksud oleh ulama besar dari Iraq ini adalah Muhammad Idris Asy Syafi’i yang merupakan anak semata wayangnya. Menangislah Fatimah saat mendengar berita tersebut karena anaknya telah menjadi seorang yang shaleh dan berilmu. 

Masya Allah, begitulah peran Fathimah dalam mendidik Imam Syafi’i yang selalu mempercayakan dan meniatkan segala sesuatunya untuk Allah. Jadi, niatkan segala sesuatu hanya pada Allah ya, Bun. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *