Aku dan Suami Sulit untuk Membuahi dan Dibuahi

Padahal tadinya cukup santai, tapi setelah testpack dan negatif jadi baper. Hal ini terus berlangsung selama 5 siklus haid setelah menikah. (Sebunda.com/Desainer:Diyanpe)

Kisah kami berdua berawal di bulan April 2017. Saat itu aku menikah di usia 23 tahun dan suamiku di usia 27 tahun.

Perihal anak, waktu itu kami nggak terlalu terburu-buru, pokoknya sedikasihnya saja sama Allah, mengingat kami baru mengenal satu sama lain selama 2 minggu saja. Jadi, bisa dibilang kami berdua nggak punya banyak waktu untuk saling mengenal. Dan setelah menikah kami gunakan untuk mengenal satu sama lain.

Sebelum menikah, haidku bisa dibilang teratur tapi siklusnya panjang sampai 35 hari. Kemudian, bulan pertama menikah, telatnya sampai 2 minggu, jadi langsung aja test pack ternyata hasilnya negatif.

Padahal tadinya cukup santai, tapi setelah testpack dan negatif jadi baper. Hal ini terus berlangsung selama 5 siklus haid setelah menikah.

Rasanya nggak enak banget, selalu ditanya ‘sudah isi belum?’. Apalagi lihat teman yang nikahnya barengan atau bahkan setelah aku tapi sudah hamil duluan. Sedih banget rasanya dan penginnya marah terus. Tapi, aku sadar kalau itu memang sudah jalannya Allah dan bukan salah siapa-siapa.

Kemudian, merasa capek sendiri buat coba testpack. Meskipun haidku telat aku biarin aja sampai badan jadi sakit-sakit dan kepala migrain parah. 

Pas kunjungan ke bidan di Puskesmas karena ada benjolan di payudara, bidannya ngasih saran buat promil kalender atau berhubungan saat masa subur. Waktu itu mikirinya haid aku aja nggak teratur dan nggak jelas.

Setelah satu tahun menikah, ada kekhawatiran juga. Takutnya memang ada masalah di kesehatan reproduksiku. Akhirnya kami berdua memberanikan diri ke obgyn di RSUD di Jakarta dengan USG transvaginal.

Setelah dicek ternyata telurku kecil-kecil dan banyak yang menandakan aku kena PCOS. Walaupun dokter nggak mendiagnosa PCOS, tapi telur kecil adalah ciri dari PCOS. Kemudian aku diberikan resep obat insulin dan mencoba mengurangi gula, dan mengurangi nasi. Tapi hal tersebut cuma berjalan selama 2 minggu saja karena aku capek, hehe.

Setelah itu, aku tetap berikhtiar dengan nyoba promil buah kurma muda, serbuk kurma muda, buah zuriat, madu subur suami istri, promil vitamin E, folavit, diet nasi dan minuman manis. Hanya saja semuanya nggak pernah konsisten dan cuma bertahan 2 minggu aja.

Setelah coba promil alami, kemudian kami berdua mencoba promil medis ke obgyn saat usia pernikahan kami 2 tahun 2 bulan. Hasilnya tetap sama, sel telurku masih saja kecil-kecil. Tapi waktu itu dokternya nggak langsung memberikan resep obat melainkan mencari tahu penyebabnya dulu.

Kemudian dirujuk untuk tes lab sperma dan HSG untuk istri untuk melihat adakah masalah pada saluran tuba atau tidak. 

Setelah hasil lab keluar, kami berdua cukup down karena ternyata hasilnya nggak sesuai yang diharapkan. Tapi, kami berdua masih coba santai saja seperti biasa. 

Hasilnya, pergerakan sperma suamiku yang bagus hanya 2%, normalnya yakni harus lebih dari 32% dan morfologi dari spermanya 100% abnormal.

Ternyata kami berdua memang sama-sama bermasalah, sulit dibuahi dan sulit membuahi. 

Alhamdulillah Allah masih memberi kami ketenangan hati dan nggak bikin kami berlarut-larut dalam kesedihan.

Qadarullah di bulan Juni, aku cukup sibuk di kantor dan menyiapkan event untuk launching buku salah satu penulis, bolak-balik ke Bandung saat itu.

Aku pikir karena kerjaan kantor lagi banyak jadi bawannya lemes terus dan mual. Ternyata sampai seminggu mualnya nggak hilang-hilang dan makin panjang.

Entah ada angin apa akhirnya coba buat testpack. Saat itu usia pernikahan kami 2 tahun 7 bulan. Jadi hampir 2 tahun nggak pernah cobain testpack.

Dan, alhamdulillah, hasil testpack menunjukkan garis dua. Besoknya langsung ke dokter untuk memastikan bahwa kehamilanku benar-benar nyata dan tumbuh di dalam rahim. Sempat deg-degan, tapi alhamdulillah hasil USG sudah ada bakal janinnya. Usia kehamilan saat itu 6W5D.

Alhamdulillah Allah karuniakan kami keturunan di waktu yang nggak terduga dan nggak disangka-sangka. Semuanya dijawab oleh Allah dengan ‘kun fayakun’.

Itu dia Bun, perjalanan panjang yang aku lalui bersama suamiku. Buat Bunda-bunda yang masih berjuang, percaya ya kalau Allah akan memberi di waktu yang tepat.

 

Ferisa, Bogor, Jawa Barat

**Kanal Diari Bunda merupakan kanal khusus kiriman Bunda-bunda pembaca setia sebunda.com :p Bunda punya pengalaman, tips, resep, atau bahkan curhatan sekadar pelepas uneg-uneg? Yuk kirim ke email kami di hellosebunda@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *