Pewarna Karmin dari Kutu Daun, Amankah untuk Anak?

Pewarna karmin ternyata terbuat dari serangga berjenis Cochineal atau biasa dikenal dengan kutu daun yang sudah dihancurkan. (Sebunda.com/Desainer:Diyanpe)

Bunda, sepertinya mulai sekarang harus mengecek kandungan setiap makanan kemasan yang Bunda beli. Khawatirnya, ada beberapa jenis pewarna makanan yang mungkin saja berbahaya dan nggak sesuai sama rekomendasi dari BPOM. 

Munculnya video TikTok dari akun @ilmumakanan baru-baru ini soal pewarna karmin membuat banyak orang jadi heboh. Dalam video TikTok tersebut, dijelaskan kalau pewarna karmin ternyata terbuat dari serangga berjenis Cochineal atau biasa dikenal dengan kutu daun yang sudah dihancurkan.

Pewarna karmin ini ternyata sudah banyak digunakan untuk makanan olahan seperti susu, es krim, permen, hingga kosmetik. 

Lalu, apakah pewarna karmin ini berbahaya kalau masuk ke dalam tubuh, apalagi dimakan sama si kecil? Jangan panik dulu ya, Bunda-bunda. Sebaiknya simak penjelasan dari IAWP Wellness Coach ini.

Apa itu karmin?

Karmin merupakan salah satu pewarna makanan alami karena terbuat dari serangga. Pewarna karmin ini memiliki warna terang yang bertujuan untuk membuat makanan jadi lebih menarik. Pewarna karmin berasal dari suku Aztec dan sudah cukup lama digunakan, yakni dimulai pada tahun 1500-an oleh masyarakat Eropa. 

Pada perkembangannya, pewarna karmin nggak hanya digunakan untuk industri makanan saja, tetapi juga digunakan untuk industri kecantikan dan perawatan tubuh. 

Bahan baku pembuatan pewarna karmin sendiri merupakan serangga jenis Cochineal yang menghabiskan hidupnya dengan menempel pada kaktus pir berduri di Amerika Tengah dan Amerika Selatan.

Serangga jenis cochineal ini dipanen selama ratusan tahun dan dikumpulkan di perkebunan pir berduri di Peru dan Kepulauan Canary. 

Proses pembuatan karmin

Untuk menghasilkan pewarna makanan ini, serangga Cochineal kemudian disortir dan dijemur. Lalu, serangga tersebut dihancurkan dan dicampur dengan larutan alkohol asam yang akan menghasilkan warna merah cerah untuk keperluan pewarnaan makanan. 

Apakah pewarna karmin aman dikonsumsi?

Di masa lalu, salah satu bagian yang mengatur makanan di Amerika mengizinkan penggunaan karmin dan termasuk dalam label ‘pewarna alami makanan’. Namun, ketika ditemukan kasus alergi parah karena karmin, maka penggunaan pewarna alami ini harus mencantumkan label yang jelas pada kemasannya. 

Beberapa istilah pewarna karmin yang ditemukan di label makanan seperti, carmine, cochineal, cochineal extract, crimson lake, carmine lake, carminic acid, atau natural red 4

Menurut IAWP Wellness Coach, pewarna karmin termasuk pewarna yang aman dikonsumsi karena berasal dari hewan. Karena terbuat dari bahan alami, pewarna karmin dianggap nggak menimbulkan risiko kesehatan tertentu, kecuali pada orang yang memiliki alergi. 

Hal ini ternyata juga sudah diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 37 Tahun 2013 tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pewarna, yang menerangkan kalau daftar pewarna alami yang diperbolehkan antara lain: kurkumin, riboflavin, karmin dan ekstrak cochineal, klorofil, karamel, karbon tanaman, beta-karoten, ekstrak anato, karotenoid, merah bit, antosianin, dan titanium dioksida.

Nah, Bunda-bunda, karena ternyata pewarna karmin sudah dijamin BPOM, Bunda nggak perlu khawatir lagi tapi tetap harus waspada dan selalu cek, ya. Pastikan bahan-bahan alami yang ada di dalam makanan anak sudah terjamin oleh BPOM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *