Pro-Kontra Metode BLW untuk Ajari Si Kecil Mengenal Makanan

Banyak pro dan kontra untuk metode BLW, mengingat kemampuan mengunyah bayi tidaklah sama dan tekstur makanan harusnya diberikan sesuai dengan usianya. (Sebunda.com/Desainer:Diyanpe)

BLW atau Baby-Led Weaning merupakan metode pemberian makanan secara langsung pada anak tanpa diolah dan disuapkan. Metode ini bisa memberikan kebebasan pada anak untuk memilih sendiri makanan yang ingin ia makan.

Lalu, dengan cara pemberian makanan secara langsung ini, apakah metode BLW aman dan tidak membuat anak tersedak? 

Banyak pro dan kontra untuk metode BLW, mengingat kemampuan mengunyah bayi tidaklah sama dan tekstur makanan harusnya diberikan sesuai dengan usianya.

Dilansir dari nutriclub.co.id, ada beberapa keuntungan metode BLW yang bisa dirasakan oleh Bunda-bunda. Salah satunya yakni bisa membantu anak mengeksplor makanannya sendiri. 

Selain itu, metode BLW juga membantu anak untuk tidak memilih-milih makanan karena makanan yang disediakan bisa dimakan sesuai keinginannya. Anak yang memilih sendiri makanannya dipercaya bisa tumbuh menjadi anak yang mudah memakan apa saja.

Meskipun begitu, nggak sedikit ahli yang setuju dengan metode BLW ini sebab belum ada penelitian terkait BLW untuk kesehatan pencernaan anak.

Dilansir dari Kompas Lifestyle, para dokter menyarankan untuk menggunakan metode MPASI yang sudah ditetapkan oleh WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia, yakni ASI eksklusif selama 6 bulan dan MPASI dengan tekstur makanan yang lembek kemudian secara bertahap menaikan teksturnya hingga usia 12 bulan anak siap makan dengan keluarganya. 

Hal penting dalam pemberian MPASI yakni kecukupan nutrisinya. Mulai dari karbohidrat, protein, vitamin, hingga mineral. Sedangkan BLW, para ahli khawatir anak tidak mendapatkan kecukupan nutrisi karena makanan yang diberikan biasanya nggak beragam. Contohnya, nggak mungkin anak diberikan daging dalam bentuk yang padat. 

Selain itu, bayi yang umurnya belum mencapai satu tahun belum memiliki gigi yang lengkap sehingga makanan yang bisa masuk mungkin saja jumlahnya sedikit. 

Kemudian, jika anak belum bisa duduk dengan tegak dan belum bisa menggeser makanannya dikhawatirkan akan meningkatkan risiko tersedak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *