Astagfirullah! Dampak Toxic Parenting Nempel Sampai Dewasa

Karena ingin melihat anak berhasi, tanpa sadar kita menjadi terobsesi terhadap anak. (Sebunda.com/Desainer:Diyanpe)

Sebagai orangtua yang menginginkan segala yang terbaik untuk anak-anak, kadang membuat kita jadi berlebihan dalam bersikap dan berkata terhadap pada anak. Bahkan tanpa sadar kita menjadi terobsesi terhadap anak. Misalnya, ayah-bunda jadi ingin anak bisa jadi juara kelas terus. 

Tak hanya itu, sikap ini juga bisa mendorong ayah-bunda untuk terbiasa mengeluarkan kata-kata negatif kepada anak seperti sering menyalahkan anak, mengecilkan usaha anak, atau yang terparah malah jadi membandingkan kemampuan anak dengan anak teman kita misalnya. Waduh, kalau sudah kayak gini berarti Bunda-bunda sudah masuk kategori parenting toxic, nih.

Lalu, seperti apa sih ciri dari parenting toxic lainnya?

Menurut psikolog klinis Chitra Ananda Mulia, M.Psi, Psi, toxic parenting bisa dicirikan dengan orangtua yang selalu memaksakan kehendak pada anak. Ingin anaknya selalu menjadi yang mereka mau.

“Kategori toxic parenting yakni nggak pernah mau ngertiin anaknya, melakukan kekerasan verbal hingga kekerasan fisik. Orangtua juga nggak pernah memperlakukakn anak sesuai dengan perkembangan usia dan perkembangan anak,” jelas Chitra.

Chitra juga menambahkan, toxic parenting ini bisa berdampak buruk pada self concept anak kelak saat sudah dewasa.

“Dampaknya yakni bisa dilihat dari cara anak melihat diri mereka sendiri yang cenderung negatif. Pada akhirnya self esteem mereka juga nggak ada dan malah jadi negatif. Anak juga jadi merasa acuh atau malah mencari perhatian seperti misalnya menggunakan narkoba,” papar Chitra.

Nah, itu dia Bun beberapa ciri toxic parenting yang harus Bunda-bunda pahami. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *