Jangan Sepelekan Baby Blues! Yuk Saling Menguatkan Bunda

Psikolog Anak, Tika Bisono, punya penjelasan jelas soal baby blues dan bagaimana syndrome ini bisa membuat Bunda-bunda jadi stres. (Sebunda.com/Desainer:Diyanpe)

Baby blues merupakan salah satu syndrome yang menyerang Bunda-bunda setelah melahirkan. Nggak jarang syndrome ini bisa bikin Bunda-bunda jadi stres, bahkan parahnya bisa bikin Bunda-bunda melakukan hal berbahaya seperti menyakiti bayi hingga bunuh diri. Naudzubillah…

Untuk itu, sesama Bunda harus sama-sama menguatkan ya, biar syndrome baby blues ini segera dilewati dan nggak berlangsung lama. 

Psikolog Anak, Tika Bisono, punya penjelasan jelas soal baby blues dan bagaimana syndrome ini bisa membuat Bunda-bunda jadi stres. Simak dengan seksama ya, Bun.

Blues itu kan artinya sesuatu yang kurang atau yang memprihatinkan, menggambarkan ke-sindromatisan sesuatu. Baby blues biasanya muncul ketika Bunda baru melahirkan, tiba-tiba seluruh perhatian berpindah ke si bayi, Si Bunda nggak dapat perhatian,” jelasnya. 

Saat mengalami baby blues, Bunda-bunda akan mengalami situasi yang membuat stres. Di mana awalnya merasa anak adalah bagian hidupnya, tapi setelah lahir, anak sudah tidak menjadi bagian dari Bunda karena dipegang oleh banyak orang. 

“Yang tadinya merasa anak di dalam kandungan itu ‘bagian dari diriku’, setelah dikeluarkan udah ‘nggak  jadi bagian dariku lagi’. Dipegang sana sini bahkan jarang dipegang Bunda. Perhatian berkumpullah ke si anak, dan bunda nggak dapat perhatian, tiba-tiba jadi merasa sendiri aja gitu. Bahkan suami juga lupa bahwa ada istri sebagai house dari si bayi, itu yang menyebabkan rasa ditinggalkan,” jelas Tika Bisono. 

Adakah faktor lain penyebab baby blues?

Jawabannya ada. Baby blues juga nggak hanya terjadi karena bayi, tetapi juga faktor lain misalnya kelakuan suami yang nggak menyenangkan. Atau lingkungan yang terlalu menekan. 

“Sesedikit-sedikitnya baby blues itu pasti ada masalah lain. Apalagi kalau pas hamil kelakuan suami tidak menyenangkan atau ada kasus-kasus yang tidak membahagiakan. Nah ini udah pasti ngalamin baby blues,” jelas Tika Bisono. 

Saat Bunda-bunda mengalami baby blues, sebaiknya jangan dipendam sendiri. Jika lingkungan tidak mendukung, berbicaralah sama suami dan menghubungi ahli untuk menghindari hal yang nggak diinginkan. 

“Antara ibu dan anak belum tentu langsung menyatu. Apalagi kalau berkembang, misalnya liat anak malah jadi kesel-keselnya. Nah kalau baby blues udah berkembang seperti ini, harus ditangani ahli,” ungkap Tika Bisono.

Lebih lanjut Tika Bisono menjelaskan jika munculnya baby blues bisa dipicu oleh kebebasan Bunda yang dirampas. Misalnya, lingkungannya terlalu banyak aturan, sehingga Bunda nggak bisa melakukan hal yang menurut Bunda benar dan nyaman.

“Rasanya baby blues orang-orang itu dipicu juga oleh kebebasannya dia direcokin, dia harus ikutin apa kata orang sementara sebelajarnya dia pastikan dia punya kenyamanan tertentu enaknya kaya gimana. Yang biasanya berkepanjangan adalah ketika dia nggak dapet apa yang dia mau,” jelasnya.

Maka dari itu Bun, dukungan dari suami dan lingkungan sekitar itu penting banget, lho, buat psikologi Bunda. Jadi, saat ada sahabat yang baru saja melahirkan jangan lupa diberikan semangat, ya. Boleh saja memberikan saran, tetapi jangan sampai didikte dan memaksa.

Semangat untuk Bunda-bunda yang baru saja melahirkan, kalian pasti kuat! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *