Perbedaan Baby Blues vs Pospartum Depression, Mana Lebih Bahaya?

Munculnya gejala babyblues dan pospartum juga menjadi faktor yang membedakan kedua jenis depresi ini (Sebunda.com/Pixabay)

Kebanyakan ibu baru, akan mengalami bermacam gejolak mental setelah kelahiran anak pertamanya. Gangguan kesehatan mental yang sering terjadi pada ibu baru yaitu baby blues dan pospartum depression. Sering kali dua gangguan kesehatan mental ini diartikan sama oleh kebanyakan orang, sebab memiliki gejala yang hampir serupa.

Kalau gitu sebenarnya apa sih perbedaan dari dua jenis depresi pasca kelahiran ini? Berikut merupakan penjelasan perbedaan dari baby blues dan pospartum depression dilihat dari beberapa aspek menurut Psikolog, Andita Nathania, M.Psi. 

1. Dilihat dari Gejalanya

Baby blues lebih terlihat dari perubahan emosi si Bunda setelah melahirkan, jika dilihat dari gejalanya. Perubahan emosi ini terjadi secara tidak menentu misalnya ibu jadi lebih sensitif, mudah lupa, sedih, hingga stres. Bahkan ibu yang mengalami depresi jenis ini lebih mudah cemas dan kemudian berakhir menangis. Hal ini disebabkan si ibu takut jika tidak dapat merawat bayinya dengan baik.

Sedangkan pospartum sendiri, memiliki gejala yang lebih serius dibandingkan dengan baby blues. Sebab, postpartum tidak hanya menyerang psikologi ibu, tetapi sudah ke perilaku si ibu. Contohnya, ibu yang mengalami gejala ini cenderung bisa kehilangan nafsu makan atau justru sebaliknya. Kemudian depresi ini juga bisa membuat ibu jadi sulit tidur. Selain itu, ibu akan mengalami kelelahan berlebih meskipun sudah beristirahat dengan cukup.

2. Dilihat dari Waktu Munculnya Gejala

Munculnya gejala baby blues dan pospartum juga menjadi faktor yang membedakan kedua jenis depresi ini. Baby blues muncul lebih dahulu dibandingkan dengan pospartum. Sebab pospartum sendiri merupakan depresi terusan dari baby blues

Awal kemunculan baby blues yaitu 3 sampai 4 hari setelah melahirkan. Sedangkan pospartum baru muncul setelah bulan kedua atau ketiga pasca melahirkan. Dua hal ini bisa disebabkan karena, si ibu kaget dengan periode kehamilan yang dijalaninya. Kemudian, bisa juga disebabkan karena masalah pernikahan dan faktor ekonomi sulit yang menyebabkan naiknya tingkat stres pada si ibu.

3. Dilihat dari Durasi Gejala

Menurut Andita, “Biasanya baby blues terjadinya di 14 awal dari hari kelahiran, dan puncaknya biasanya di hari ketiga atau keempat. Sedangkan postpartum depression biasanya setelah itu.”

Seringnya durasi baby blues paling lama terjadi sekitar 2 minggu saja. Sementara pospartum durasi paling sedikit terjadi yakni 1 bulan, hingga paling lama terjadi bisa sampai 1 tahun pasca melahirkan. 

4. Faktor Penyebab

Umumnya baby blues timbul dari perubahan fisiologis yang dialami ibu pasca melahirkan, perubahan ini juga dipengaruhi dari faktor psikologisnya. Sedangkan untuk pospartum, lebih dipengaruhi oleh faktor psikososial misalnya stres yang juga memicu timbulnya perubahan hormon, dan bermacam masalah lain seperti masalah finansial, sosial, .

5. Tingkat Bahaya

Jika dilihat dari tingkat bahaya, tentu yang lebih bahaya dari keduanya adalah pospartum karena  bisa sampai mengganggu kemampuan si ibu dalam mengasuh anaknya. Sedangkan pada kondisi baby blues meski dalam keadaan sedih dan tak berdaya selama beberapa hari, ibu masih bisa mengurus bayinya. Hal tersebut dikarenakan baby blues tidak sampai mengganggu kemampuan ibu dalam mengasuh anaknya. 

Dari seluruh penjelasan tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa pospartum depression lebih berbahaya bagi kesehatan mental dan fisik ibu jika dibandingkan dengan baby blues. Apakah Bunda pernah mengalami hal yang serupa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *