Waspadai Psikologis Anak Jika Sering Dititipkan ke Kakek-Nenek

Sebenarnya nggak masalah jika memang belum bisa percaya dengan orang asing untuk menjaga anak ya Bun. Namun, yang sering salah kaprah, kakek dan nenek jadi ikut punya andil dalam mendidik anak. (Sebunda.com/Desainer:Diyanpe)

Menitipkan anak pada kakek dan nenek adalah salah satu opsi yang banyak working parents lakukan. Biasanya hal ini dilakukan untuk menghemat budget menyewa babysitter atau bisa jadi atas keinginan kakek dan neneknya yang ingin merawat cucunya. 

Sebenarnya nggak masalah jika memang belum bisa percaya dengan orang asing untuk menjaga anak ya Bun. Namun, yang sering salah kaprah, kakek dan nenek jadi ikut punya andil dalam mendidik anak, akibatnya pola asuh yang berbeda antara pola asuh orang tua dengan pola asuh kakek-nenek bisa membuat anak bingung.

Tak hanya itu, terlalu seringnya anak yang dititip ke kakek-nenek bisa membuat kedekatan anak dan orangtua malah renggang. Hal ini diungkapkan oleh Psikolog, Tika Bisono, yang menjelaskan jika sebaiknya jangan biarkan kakek dan nenek ikut andil dalam urusan mendidik anak. 

Anak, jelasnya, secara psikologis bisa merasakan traumatis “dibuang” oleh ibu dan bapaknya.

“Dalam kasus ini aku melihat langsung di mana orangtua setelah bercerai, nggak peduli lagi sama anaknya dan dititipkan sepenuhnya pada kakek dan neneknya. Jadi bapak ibu ini nggak ngerasa kalo anaknya tuh sedih banget kaya dibuang sama bapak ibunya, tapi bapak ibunya nggak ngerasa kalo ngebuang anaknya,” ceritanya pada Sebunda.

Dalam kasus yang dialami salah satu kliennya tersebut, Tika Bisono menceritakan bahwa kesalahan terbesar yang sering tidak disadari orangtua yakni menempatkan posisi rumah kakek-nenek si anak sebagai tempat istimewa. 

Anak tidak akan lagi merasa nyaman di rumahnya sendiri dan akan terbiasa menyebut rumah kakek-neneknya sebagai tempat untuk “pulang”. 

“Pas konseling sama aku, dia mulai nangis karena aku balik cara berpikirnya kok bisa-bisanya ke rumah kakek nenek itu namanya pulang, tapi kalau ke rumah bapak ibunya itu namanya main. Alasannya cuma karena rumah eyangnya lebih dekat ke sekolahnya,” kisahnya.

Hal sepele seperti inilah yang kadang membuat hubungan ibu dan anak jadi rusak, karena berfikir tidak apa-apa menitipkan anak pada kakek-neneknya biar sekolah dekat. Padahal dampak psikologis untuk anak bisa lebih dari itu. 

Nggak hanya itu saja, jika peran kakek dan neneknya terlalu besar bisa juga menyebabkan baby blues pada Bunda. Sebab, segala sesuatu yang Bunda lakukan akan terasa salah dan terus dikomentari.

“Baby blues orang-orang itu dipicu juga oleh kebebasannya dalam mengasuh anak tapi justru direcokin, dia harus ikutin apa kata orang. Padahal, harusnya mengasuh anak itu sebelajarnya seorang ibu. Pastikan dia punya kenyamanan tertentu enaknya kaya gimana,” jelas Tika.

Hal ini menurut Tika juga bisa berbahaya bagi psikologi bunda. Tekanan kakek-nenek yang diberikan akan membuat sang bunda meledak suatu saat.

“Kalau dibiarin akhirnya jadi tegang terus akhirnya bahasa yang keluar “gw mau kaya gini atau engga ini kan anak gw, terserah gw dong” padahal maksudnya kakek-nenek nggak seperti itu,” jelas Tika Bisono.

Karena itu bunda-bunda yang ingin menitipkan anak kepada kakek-nenek ada baiknya membicarakan terlebih dahulu ya batasan serta pola asuh yang diinginkan ayah-bunda. Tentunya dengan bahasa yang santun dan mudah dipahami kakek-nenek.

InsyaAllah pemahaman yang baik dan benar tentunya akan membuat anak bisa merasakan kasih sayang yang utuh dari ayah-bunda serta kakek-neneknya. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *