Bunda, Begini Cara Atasi Konflik dengan Mertua

Sebenarnya konflik dalam hidup normal saja Bun, namun yang bermasalah adalah kalau terus konflik antara Bunda dan mertua terus berlarut-larut atau malah menimbulkan penyakit hati, naudzubillah. (Sebunda/design: Diyanpe)

Tinggal Seatap dengan Mertua? Siapa Takut!

Siapa sih yang tak menginginkan membangun rumah tangga berdua setelah menikah? Namun in reality, banyak faktor yang mungkin mengharuskan Bunda dan Ayah tinggal bersama mertua.

Bunda merasa deg-degan, cemas, atau mungkin panik? Wajar kok Bun, apalagi jika Bunda belum merasa mengenal lebih dekat ibu dan ayah mertua. Bisa jadi Bunda merasa seperti sedang ujian di kelas dengan guru pengawas yang tidak melepaskan pandangan dari Bunda.

Lalu gimana ya biar Bunda bisa lulus ujian dan terhindar dari konflik klasik mertua-menantu saat tinggal di “Pondok Mertua Indah”? Sebunda beberapa waktu lalu melakukan wawancara eksklusif dengan Psikolog Dessy Ilsanty, M.Psi untuk mengulik serba-serbi tinggal seatap dengan mertua.

Mengubah Mindset

Psikolog Dessy Ilsanty memaparkan langkah pertama dan utama untuk mempersiapkan diri tinggal bersama mertua adalah dengan mengubah mindset. Banyak pasangan yang merasa mertua adalah “orang asing” dan yang lebih parah lagi melihat mertua sebagai orang yang “menyebalkan”. 

Inilah, ucap Dessy, yang menjadi awal benih-benih konflik yang sesungguhnya. “Kalau dari awal mindsetnya seperti itu maka akan cenderung lebih sering berargumen, kita akan merasa lebih tahu dan mertua merasa lebih berpengalaman. Jadi, kita yang lebih muda sebaiknya tetap menghormati dan menghargai mertua kita,” paparnya.

Psikolog Dessy juga mengingatkan pada dasarnya mertua adalah orangtua Bunda dan Ayah. “Artinya kita tetap harus menjaga sopan santun, respek sama mereka itu selalu harus dijaga,” jelasnya. 

Hal ini sejalan dengan hadist berikut:

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “kemudian siapa lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dia menjawab: “Kemudian ayahmu.” [HR. Bukhari no.5971 dan Muslim no.2548]

Jika mindset mertua adalah orangtua sudah tertanam dengan baik, InsyaAllah ini merupakan langkah awal untuk menghindari segala konflik dengan mertua karena Bunda akan lebih legowo berbakti selayaknya kewajiban berbakti kepada orangtua. 

Kesampingkan Ego

Lalu bagaimana jika konflik atau kesalahpahaman terjadi? Sebenarnya konflik dalam hidup normal saja Bun, namun yang bermasalah adalah kalau terus konflik antara Bunda dan mertua terus berlarut-larut atau malah menimbulkan penyakit hati, naudzubillah.

Dessy menekankan cara yang paling efektif, dan mungkin yang paling berat, yakni dengan mengesampingkan ego. Bunda yang dirahmati Allah, karena mertua ada orang yang jauh lebih tua, ada kalanya hal pertama yang perlu dilakukan saat suasana memanas yakni diam dan mengiyakan.

“Kesan awal, sebagai bentuk penghormatan, sebaiknya iyain dulu aja. Seringkali kita yang muda egonya masih menonjol dengan merasa lebih tau informasi,” jelas Dessy. 

Jangan Sampai Ucapkan: ‘Ibu Salah’

Menurut Desy dengan mengalah di awal, Bunda bisa mencari waktu yang lebih tepat untuk ngobrol dan mencari cara yang lebih smooth untuk meluruskan pendapat yang salah tersebut. Yang jelas, imbuh Desy, pantangan terbesar saat berkonflik dengan mertua adalah mengucapkan “Ibu salah!” dengan nada meninggi.

“Kalau memang ada yang salah, kita sebagai anak harus meluruskan. Namun, cara meluruskan di sini nggak harus bilang ‘bapak dan ibu salah nih’, nggak harus begitu, tapi paparkan saja informasi yang jelas yang sudah kita peroleh pemikiran mereka yang salah,” tegasnya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran surah Al-Isra’ ayat 23:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkanmu supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan “ah” kepada keduanya. dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka dengan perkataan yang mulia,” (QS. Al-Isra’: 23).

Adu argumen dengan mertua tidak akan berujung baik dan hanya akan memperparah kondisi. Mungkin bisa jadi, bunda cukup menonton informasi dari sumber terpercaya di Youtube lalu mengencangkan volumenya agar mertua mendengar tanpa perlu adu argumen. “Beritahu yang benar atau sumber yang terpercaya mengenai informasi tersebut,” ucap Desy.

Nah, itu dia Bunda beberapa tips dari ahlinya soal mengatasi konflik dengan orangtua. Sabar dan jangan langsung marah ya, Bunda. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *